Tak setampan Nabi Yusuf, tak seromantis Nabi Adam, dan tak sebaik Rasulullah.

Ichsan Afriadi

Bulan

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Bismillah.

Di sepertiga malam ini, bulan yang terlukis di langit sana sungguh terlihat indah. Namun ku bukan ingin menulis keindahan cahaya-nya yang mempesona, justru malam ini aku mendengar ia seperti menasihatiku dengan caranya.

Dalam dinginnya embun di atas sajadah, ia seperti menatapku dan seolah berkata:

Duhai sahabatku Ichsan, sang Penyair.

Malam ini telah kulihat separuh jiwamu di belahan dunia sana, jauh darimu saat ini. Ia berusaha menjagamu dalam pintanya pada Allah Azza Wa Jalla bahkan ia selalu membayangkan bahwa esok hari kelak kau akan datang untuk meminangnya atas nama cinta dan karena agamanya. Dia sebaik-baiknya cucu bunda Hawa yang lemah dan lembut hatinya, maka jangan pula kau goreskan dia sebait luka dalam jiwa. Dia wanita saleha yang sangat menghargai cintanya karena rasa malu pada Tuhannya.

Andaikan waktu bisa ditentukan kapan datang dan tiba, ia ingin sekali berbicara langsung padamu bahwa.

Aku menjaga hati hanya untukmu. Meski hati ini lemah akan penantianku!
Itulah katanya tadi, sungguh.

Duhai sang Pujangga yang memuja binarku karena kuasa-Nya.

Tenang saja, kau tak usah ragu akan penantiannya. Yakinkan saja bahwa kau takkan menyiakan waktunya, luruskan saja niatmu untuk berjumpa dalam waktu yang telah ditentukan-Nya. Maka sampai saatnya tiba dimana waktu yang diindahkan Tuhan kita, aku akan senantiasa menghiburnya dengan cahaya kerinduan dalam ruang hatinya ketika malam merenggut petang hingga senjapun menjelang.

Duhai sahabatku sang Pencinta yang kau jadikan aku sebagai tanda kebesaran Tuhanmu Allah Azza Wa Jalla, saat ini cuma itu yang aku bisa ucapkan. Sampai bertemu dalam keindahan Ilahi yang menyejukkan.
Bulan.
Duhai rembulan yang setia menerangi tiap malam-malam sepi, sampaikan padanya pesanku ini.

Ingin rasanya ku kuras segala tinta aksara dan ku lukis rasa rindu yang ada padamu, duhai engkau yang telah dijanjikan untukku. Kan ku jaga hati ini dengan janji yang terhunus, meski namamu telah bersanding denganku di Lauh Mahfuz.

Ukhti... Sampaikah jibril melafadzkan niatku untuk mengkhitbahmu nanti, mengkhitbah dalam balutan tasbih-tasbih kerinduan sang Ilahi.

Ukhti... Kau selalu hadir dalam lantunan ayat-ayat pengibaanku, kau selalu ada dalam sepi yang membunuh, kau selalu hidup di tiap sujud malamku, kau selalu terasa dalam senandung kidung surat cinta-Nya yang merdu, dan sajadah yang basah karena air mata ini menjadi saksi cintaku utuh untukmu.

Ukhti... Jika ada kesempatan dimana kamu untukku dalam untaian khidmat sebuah ijab kabul penuh haru, pastilah akan kugadaikan semua waktu yang bergulir saat ini demi datangnya waktu itu.

Tunggu aku, hingga tiba waktu dimana engkau memanggilku ayah dan anakku memanggilmu ibu. Dan satu kalimat yang nanti akan selalu kubisikan padamu, aku mencintaimu.
Tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipi, teruntuk dia yang nanti kucintai dari rasa yang terukir indah di hati karena Ilahi.
Ichsan Afriadi

10 comments:

Banyu Kusuma

waalaikumussalam,
aamiin ya Rabb
semoga Allah mendengar do'amu, mas.

Salman Alfaruq

Subhanallah indah sekali....
Puisimu adalah do'amu juga, semoga Allah mengabulkan segala pintamu akhi.

Ina Rakhmawati

ohhh ini ya tulisannya? sweet...

allah mendengar kok, akhi
:)

zachflazz

sorry kalo OOT ya Mas. sebelum saya baca puisinya, saya udah terkesima sama lay out blog ini, ada gambar daun yang secara simbolik menyiratkan arti tertentu, lagi. mantap.

Sun

ih... kereeen.... smga harapnya terwujud ya...

Nakusan Bali Technology

keren banget sob tulisanya...

semoga terwujud niat baiknya ya sob..

tujuh bunga

kata-katanya ngena banget, bahasanya lembut, keren maa! Ayo buruan dikhitbah si ukhti nya, ntar keburu keduluan orang lho :D semoga niatnya segera terwujud, amin ;)

Uswah

ehemmmmm....

Ocha Rhoshandha

hmmmm... kekasihmu pasti keplek-keplek ya dapet puisi ini?
puisinya menyentuh banget

Rakyan Widhowati Tanjung

subhanallah banget kalau saya bilang mas. wah, tapi kalau pas saya baca ini, seperti terbaca bahwa, mungkin suasana hatinya mas ichsan lagi galau kah?
rindu karena Ilahi memang tak pernah salah mas.