Tak setampan Nabi Yusuf, tak seromantis Nabi Adam, dan tak sebaik Rasulullah.

Ichsan Afriadi

Dan Lagi

Bismillah.

Dan lagi,
Kutulis apa yang terlukis indah di hati, ku rangkai serpihan kata yang tertera di pikiran hamba Ilahi, dan mencoba kuhembuskan syair yang ku ukir di hamparan putih ini.

Tentulah, tulisanku tak seperti Al-Qur'an yang memberi petunjuk pada diri, namun kecoba untuk menyentuh si pemilik hati. Ketahuilah, Aku menulis bagai fatamorgana, tak ada dalam kisah namun begitu terasa. Kepingan puisi yang kutulis disini bukanlah apa yang tengah ku derita, aku hanya mewakili mereka ataupun kamu yang sedang merasakan indah, tersakiti hati dan jiwa.

Janganlah melihat siapa aku yang berkata, namun pandanglah apa yang telah ku bawa.

Ya Allah,
Apa yang harus ku goreskan di sini?
Sementara hidayah-Mu jauh lebih indah, hingga membuatku tak sanggup menerjemah setiap kalimatku. Ku mendengar alunan suara hati yang terpanggil oleh-Mu, mengalir merdu dalam langkah-langkah gemuruh waktu. Ku coba ceritakan kehidupan ini bersama hati kecilku, dengan semerta jiwa yang hampir rapuh karena ketidak mengertianku. Kemudian perlahan seberkas cahaya-Mu menyentuh dalam jejak kisahku, menjadikanku utuh semula seperti waktu sebelum aku bersanding dengan noda-noda itu.

Ya Rasulullah,
Apakah engkau tahu?
Setetes air mata ini mencari kecintaan dari sosok dirimu, dan perangaimu membuat apa yang terdengar bagiku begitu syahdu. Ketika suara hati bertemu dengan jiwa-jiwa peneguh bersama ajaranmu.

Indah,
Begitu indah.

Ada secercah kerinduan, dalam, jauh tak sanggup terukur tanpa adanya kesyukuran, kesederhanaan yang membuat hatiku pilu.

Aku rindu.

Adakah kelak aku di atas sana?
Melihat wajahmu dengan segala keindahan jannah yang diciptakan-Nya, hanya itu yang kupinta.

Hadirmu membawa kedamaian, yang mejelaskan bahwa kemewahan dapat terukir dari sebuah kesederhanaan. Biarlah memekik asa ini dalam doaku pada Allah Azza wa Jalla, kuselipkan sedikit jejaknya pada tinta atas nama cinta karena agamanya.

Subhanallah, Alhamdulillah.

17 comments:

dmilano

Saleum,
Menyadari keadaan diri sendiri memang sangat bijaksana, agar kita akan berusaha untuk berbuat lebih baik lagi diwaktu yang akan datang. Semoga kita tidak hanya bisa membaca yang tertulis, akan tetapi lebih daripada itu, menelaah dan meresapi makna dari tulisan.
saleum dmilano

Original CikTeddy

speechless..kata2 kamu lahir dari hati kan?indah :)

Ichsan Afriadi

Iya, terimakasih.

mama aini

assalam ichsan..indahnya ayat2 diatas !!..

Redhzuan Indera

kalau ikhlas terhadap sesuatu , yang lain lain pasti akan rasa keikhlasannya . kau berjaya sentuh hati aku . terima kasih .

terima kasih sudi melawat blog aku .

salam Pujangga dari Malaysia .

Masbro

Kerinduan yang tulus..

sangterasing

Wah.. sekali berkarya, langsung terasa nih..
lanjutkan! jangan pernah berhenti menginspirasi.
:)

raden ikhwan

so inspired... fastabiqul khoirot.. :)

Anonymous

Subhanallah....

Naya Elbetawi

Maha Besar ALLAH yang menguasai langit dan bumi beserta isinya..

Outbound Malang

maha benar ALLAH dengan segala apapun yang dilakukanNya..
subhanallah..
salam persahabatan..

jiah al jafara

sedang rinduuuuu~
salam blogger :-D

rusydi hikmawan

kata nabi, yang berada bersamanya di surga kelak, yang mencintainya dan mencintai sahabat2, keluarga dan orang2 beriman di antara mereka

dhenok habibie

"Janganlah melihat siapa aku yang berkata, namun pandanglah apa yang telah ku bawa." saya suka kalimat itu.. :)

semoga kita termasuk ke dalam golongan mereka yang selalu merindukan Rasulullah sob.. salam..

Universitas Terbaik

Sangat menginspirasi mas

Popi

3 baris puisinya indah sekali..

medan

kemari dan blogwalking bro Sepeda Motor Injeksi Irit Harga Terbaik Cuma Honda thanks :)