tak setampan Nabi Yusuf, tak seromantis Nabi Adam, dan tak sebaik Rasulullah.

Ichsan Afriadi

Surat dari Hati

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, selamat ulang tahun anakku.

Maafkan kami yang kini tak ada ketika engkau telah beranjak dewasa, mungkin di saat engkau menerka seperti apa rasanya belaian hangat ibu dan ayah. Duhai anakku yang kucintai karena-Nya, bukankah Rasulullah dulu pernah bersabda? Bahwa kelak di surga, seseorang akan berkumpul dengan orang yang ia cinta. Insya Allah kelak kita akan kembali bersua, nak. Ibu dan ayah di sini selalu berdoa, semoga Allah menjadikanmu lelaki yang seutuhnya, lelaki yang karena doanya sanggup menjadikan kami sepasang kekasih di surga.

Nak...

Dahulu ketika ibu mengandungmu, ayah suka mengecup perut ibu sembari hati lirih berucap bahwa kelak engkau yang akan menjadi khalifah untukku. Selama sembilan bulan ibu menantimu, menanti senyum manis yang mungkin takkan lekang oleh waktu.

Nak...

Ingatkah dirimu akan hari di mana tangis dan tawa menjadi satu, hari ketika senyum ayah dan airmata ibu menjadi saksi bahwa engkau adalah anakku. Semerbak aroma apel pun ikut memenuhi ruangan di kala itu, hingga seluruh bidan menghampiri ibu hanya untuk menciummu.

Baru lahir saja engkau sudah membawa kebaikan, itulah mengapa alasan kami melukis namamu dengan sebaik-baiknya ucapan, yaitu Ichsan.
Nak...

Masihkah ingat dahulu ketika engkau meminta buku di hari ulang tahunmu, namun yang sanggup kami beri hanya senyum tulus yang mungkin tak berarti bagimu. Bukan karena kami tak menyayangimu, anakku. Hanya saja keuangan kami tak cukup untuk memenuhi permintaan itu. Juga masih ingatkah dahulu selepas maghrib kita mengaji bersama? Ketika bibir mungilmu tertatih membaca surah Al-Fatiha.

Nak...

Maafkan kami yang tak sanggup mengajarimu tentang senyawa kimia dan rumus fisika, tentang bagaimana caranya menghitung dan mengukur berapa kecepatan cahaya. Itu karena ilmu kami hanya sebatas pandai membaca, dan karena itu pula kami hanya bisa menuntunmu bagaimana caranya adzan dan iqamah.

Nak...

Belajarlah dari ayah seperti apa rasanya ketika lahir hidup sendiri tanpa keluarga, tentang arti kesepian dan penderitaan hati yang sesungguhnya. Adakah ayah pernah menitikkan airmata? Ataukah ayah pernah mengeluh tentang seperti apa rasanya kasih sayang orang tua? Tidak anakku, bahkan ia tak pernah mengeluh ketika saat-saat terakhirnya di pelukan ibu.


Nak...

Tak terasa kini engkau telah dewasa dan insya Allah kelak engkau pula yang akan menjadi seorang ayah, seorang ayah yang nantinya akan menghadiahkan kami cucu yang shalih dan shaliha.


Duhai buah hati yang kucintai karena-Nya... 

Ingatlah pesan ibu dan ayah bahwa tiada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan pula, maka tanamkanlah kebaikan di mana pun engkau tengah berada. Mungkin hanya ini saja yang bisa kami tuliskan di hatimu, wahai pelita. Sampai bertemu di taman surga, tempat di mana sungai-sungai mengalir di dalamnya.

Dari ibu dan ayah, kami menantimu dengan segala penantian yang terindah.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil".
{QS. Al-Isra 17:24}